rumahfiqih.com

facebook.com/ustsarwat

youtube.com/ustsarwat

  Catatan

27 Jilid Al-Majmu` Syarah Al-Muhadzdzab

23 March 2011

Inilah sebuah masterpiece dari ulama terkemuka dari mazhab Asy-Syafi`iyah, Al-Majmu` Syarah Al-Muhadzdzab.

Saya membeli 27 jilid kitab ini sewaktu kemarin sempat mampir di Islamic Book Fair. Lumayan, dapat potongan 50% alias separuh harga dari banderol aslinya yang lebih dari 4 jutaan. Kenapa saya bilang masterpiece?

Ada beberapa hal yang melatar-belakangi kesimpulan saya ini, diantaranya :

Pertama, tentu ketebalannya yang dalam koleksi milik saya sampai 27 jilid. mungkin beberapa penerbit menerbitkannya dengan jumlah jilid bervariasi. Tetapi sungguh sang penulis pasti tidak sekedar main-main waktu menyusun kitab ini.

Bahkan penulisnya, Al-Imam An-Nawawi rahmahullah, keburu wafat sebelum menyelesaikan tulisannya dengan sempurna dan diteruskan oleh ulama lainnya.

Kedua, kitab fiqih ini meski mewakili mazhab Asy-Syafi`iyah, namun termasuk ke dalam kelompok fiqih muqarin (fiqih perbandingan).

An-Nawawi rupanya bukan tipe ulama yang fanatik buta dengan pendapat imamnya sendiri. Belau juga bisa mengkritik mazhabnya sendiri.

Kadang pendapat Al-Imam Asy-Syafi`i sendiri dikoreksinya, manakala hal itu dianggap beliau kurang rajih. Kadang pendapat formal mazhab As-Syafi`i yang beliau jelaskan titik-titik lemahnya.

Dengan kata lain, beliau nampak tetap menjaga jati diri dan independensi intelektualnya. Tidak mentang-mentang sudah dianggap tokoh dalam suatu institusi, lantas bicaranya selalu membela-bela kelompoknya. Mungkin para politisi di negeri ini boleh juga belajar dari ilmu Al-imam An-Nawawi ini.

Ketiga, kitab ini sangat detail dan rinci dalam menjelaskan dalil atas suatu fatwa. Kita seringkali cuma disodori fatwa `buta` dari ulama, atau lembaga fatwa tertentu, tanpa pernah dijelaskan kenapa fatwa ini begini dan kenapa fatwa itu begitu.

Tapi oleh kitab ini, rasa ingin tahu kita sangat terpuaskan, sampai teler-teler baca kitab ini pun masih dijabanin.

Keempat, kitab ini ditulis oleh ulama yang akrab sekali karyanya di tengah kita. Siapa sih yang tidak tahu buku kecil 40 hadits Nawawi?

Siapa pula yang tidak kenal dengan kitab Riyadhus-Shalihin, yang hampir semua majelis taklim dan pesantren pakai sebagai salah satu kitab yang rutin dibaca. Dua kitab itu hanya sebagian kecil dari karya An-Nawawi.

Selebihnya, beliau juga menulis kitab syarah (penjelasan) dari hadits Shahih Muslim. Kita menyebutnya Syarah Shahih Muslim.

Kelima, kitab ini enak dibaca karena setiap pasal dan bagiannya diberi semacam pengantar yang merupakan ringkasan dari apa yang akan disajikan. Sebenarnya terbalik.

Kitab ini merupakan kitab penjelasan dari sebuah kitab yang ringkas karya Asy-Syirazi, yaitu Al-Muhadzdzab.

Dalam kitab Al-Majmu` ini, apa yang ditulis oleh Asy-Syirazi dan mau dijelaskan, terlebih dahulu ditampilkan teks aslinya. Untuk kemudian penulis kitab ini menjelaskan isinya sambil menambahi dalil-dalil yang memang ada, baik dari Al-Quran, As-Sunnah atau pendapat-pendapat beliau sendiri, atau juga pendapat dari ulama lainnya. Kitab yang saya beli ini, semua teks asli dari kitab Al-Muhadzdzab ditulis dengan tinta merah, untuk membedakannya dengan penjelasan karya An-Nawawi.

Jadi rasanya lebih enak untuk dibaca dari pada pusing melihat teks di Maktabah Syamilah misalnya, yang sama sekali tidak ada seninya.

Sebenarnya masih banyak keunggulan kitab ini kalau mau terus dikaji. Tetapi setidaknya kelima alasan di atas cukup meyakinkan saya untuk mengoleksinya.

Dan buat saya pribadi, kalau di rumah seorang ustadz ada koleksi kitab ini, maka rasa kagum saya kepada beliau akan bertambah. Minimal saya akan berdecak kagum atas koleksi yang menurut saya termasuk rada mewah. Kira-kira mirip keadaaa bila di tengah lalu lintas Jakarta ada mobil berharga milyaran sekelas Lamborgini atau Ferari. Pasti mengundang banyak decak kagum dari orang di sekelilingnya.

Kelemahan


Kalau pun ada kelemahan dari kitab ini, karena -walahualam- setahu saya belum ada terjemahannya, alias masih asli berbahasa Arab. Sehingga buat mereka yang termasuk orang-orang `ajam alias buta bahasa Arab, tentu tidak bisa menikmatinya.

Entah penerbit `gila` mana yang misalnya mau menterjemahkannya. Yang pasti, pembelinya pasti sedikit, kalau melihat versi aslinya dalam bahasa Arab sudah 27 jilid tebalnya. Lagian, berapa tahun menterjemahkannya? Dan seberapa baik kualitas terjemahan itu? Semua pasti menjadi tantangan tersendiri.

Dan terakhir, siapa yang mau beli kitab yang dalam versi bahasa aslinya saja sudah 27 jilid. Mungkin kalau diterjemahkan bisa bengkak jadi dua kali alias 50 jilid lebih. Yang beli paling-paling perpustakaan saja, atau orang-orang kaya yang kelebihan duit dan duitnya nganggur.

Sementara khalayak ramai yang kantongnya pas-pasan, pasti seribu kali berpikir ulang. Maka pihak penerbit pun akan berpikir dua ribu kali sebelum memutuskan untuk menterjemahkan. Mohon maaf kepada yang belum bisa bahasa Arab.

Kelemahan kedua kalau boleh dianggap sebagai kelemahan, kitab ini adalah kitab klasik, sehingga masalah-masalah kekinian tentu tidak akan terbahas disini. Kita tidak akan menemukan pembahasan tentang zakat profesi atau zakat industri dalam kita ini. Juga tidak ada kajian tentang hukum MLM, reksadana, asuransi, atau sms berhadiah.

Tetapi saya rasa ini bukan kelemahan, sebab tiap kitab pasti mewakili masing-masing zamannya. Kelemahan lain, ya harganya yang lumayan menguras kantong. Penjualnya bilang, kalau hari-hari normal harganya sampai 4,5 juta-an.

Tetapi berhubung di pameran, dia kasih diskon separuh harga. Hmmm, lumayan. Sebenarnya kitab ini bisa diunduh dengan gratis di internet, baik versi Maktabah Syamilah atau pun versi pdf yang merupakan hasil scan itu. Tetapi kalau bisa punya aslinya, mengapa tidak?

Kelemahan lain, dan ini klasik, beberapa tokoh yang saya kenal memiliki kitab ini, jarang sekali punya kesempatan membolak-balik isinya. Mohon maaf ya ustadz. Tetapi rasanya agak sayang juga ya, punya koleksi kitab berderet memenuhi lemari tapi agak jarang disentuh.

Pantesan kitabnya masih pada kinclong, ternyata jarang dibuka. hehehe Memang kalau kitab ini tidak dipakai buat mengajar dalam majelis taklim, tentu tidak akan sehari-hari dibaca. Sebab para kiyai biasanya sebelum mengajar pasti akan melakukan persiapan dan murajaah.

Alhamdulillah, saya sendiri yang sedang ngebut menulis 20 jilid Seri Fiqih Kehidupan dengan target 7.000-an halaman, banyak sekali terbantu dengan kitab ini. Tiap hari jilid demi jilid, lembar demi lembar habis dibolak balik untuk menjadikannya sebagai referensi.

Semoga bukan buang-buang duit kalau pun harus merogoh kocek lebih dalam untuk belanja kitab setebal ini. Doakan agar 20 jilid kitab (berbahasa Indonesia) ini bisa segera berhasil dirampungkan.

Wassalam 

Ahmad Sarwat, Lc., MA

 

Jadwal Kajian

Fatal error: Call to undefined function qdb() in /home/sloki/user/k9491494/sites/ustsarwat.com/www/qq/calendar.php on line 252
« April 2013 »
A S S R K J S