Kunjungan ke Universitas Islam Antar Bangsa (IIUM) | www.ustsarwat.com Catatan

Kunjungan ke Universitas Islam Antar Bangsa (IIUM)
Tue, 22 Jun 2010 - 25663

Masih dalam rangkaian memenuhi undangan IMAS dan KBRI Singapora, saya meneruskan perjalanan lewat darat ke Malaysia. Dengan menumpang bus AKAPAN (singkatan tidak resmi karangan saya sendiri, dari antar kota antar propinsi dan antara negara), perjalanan melelahkan memakan waktu nyaris 7 jam. Sopir bus yang orang India 100% itu bilang, kalau bukan hari Sabtu, Ahad atau Senin, perjalanan bisa lebih cepat. Meski jarak Singapore ke Kuala Lumpur hanya 300-km dan jalannya pun tidak keluar dari TOL, ternyata perjalanan antara negara ini memang harus melewati imigrasi, periksa passport, periksa barang dan seterusnya. Maka urusan periksa-periksa ini pun cukup memakan waktu juga. Universitas Antar Bangsa Malaysia Salah satu mata tempat yang saya kunjungi dalam lawatan ke Malaysia kali ini adalah Universitas Islam Antara Bangsa, atau sering juga disebut dengan International Islamic University Malaysia (IIUM). Sebelumnya saya pernah ke Malaysia tahun 1997, tapi saat itu saya tidak sempat mampir ke kampus yang tersohor ini. Maka kali ini, dengan ditemani oleh teman lama yang kuliah di IIUM, Al-Akh Muntaha Zaim dan Al-Akh Irfan Farid (keduanya kandidat doktor di universitas tersebut), saya sempat berkunjung dan melihat dari dekat kampus kebanggan umat Islam Malaysia ini. Al-Akh Muntaha ini sejak dulu telah bersahabat dengan saya, sejak kami sama-sama satu kelas di Takmili LIPIA. Beliau kemudian meneruskan ke fakultas Syariah di Universitas Islam Madinah, sementara saya meneruskan ke fakultas Syariah di LIPIA. Sedangkan Al-Akh Irfan Farid dahulu juga teman sama-sama di Takmili LIPIA, lalu bersama Muntaha ke Madinah. Tapi Irfan tidak masuk ke fakulutas Syariah melainkan masuk ke fakultas Dakwah. Kedua orang sahabat kental saya inilah yang akhirnya membuat keinginan saya tercapai juga, yaitu kesempatan untuk melihat langsung dari dekat kampus yang dahulu pernah dipimpin oleh Dr. Anwar Ibrahim. Kunjungan ke IIUM saya lakukan dua kali, malam hari dan paginya. Malam hari saya hanya berkesempatan mengunjungi perpustakaan kampus ini. Cukup megah dan lumayan lengkap. Al-Akh Muntaha mengantarkan saya ke bagian buku dan kitab Fiqih, karena kebetulan beliau tahu bahwa minat saya di dalam ilmu fiqih. Perpustakaannya memang sangat representatif, full AC, lengkap, semua serba komputer, dan yang penting, buka sampai tengah malam. Pagi harinya, sebelum berangkat ke Genting Highlands, saya masih berkesempatan untuk sekali lagi datang lagi ke kampus yang menampung mahasiswa dari lebih 90 negara, yang mewakili hampir semua negara di dunia. Cukup dengan menumpang bus kota, kami sempat berpusing (baca:memutari) areal kampus yang luasnya mencapai 700 hektar ini. Al-Akh Muntaha menceritakan bahwa di masa awalnya dulu, kampus ini menjadi favorit generasi muda Islam dari seluruh dunia. Di masa itu, banyak para pakar dan ulama tersohor yang mengajar di universitas ini, antara lain Dr. Yusuf al-Qaradawi, Dr. Wahbah Az-zuhaily dan lainnya. IIUM terletak di sebuah lembah di daerah pedesaan dari Gombak, kira-kira 15 km bermobil dari Kuala Lumpur, ibu kota Malaysia. Aksesibilitas ke Kuala Lumpur dibuat mudah bukan hanya dengan bis yang efisien dan jasa taksi, tetapi juga dekat dengan kampus sebuah stasiun kereta ringan. Suasana kampus di siang hari sangat asri, indah dikelilingi oleh bukit-bukit kapur hijau-hutan. Model bangunan kampus ini kuat mengesankan arsitektur Islami modern. Kampus IIUM tentu saja dilengkapi dengan masjid yang dapat menampung ribuan jamaah shalat. Juga terdapat dua kompleks olahraga dengan kolam renang ukuran olimpiade, sebuah perpustakaan yang lengkap, sebuah klinik kesehatan 24 jam, bank, kantor pos, asrama mahasiwa, restoran, toko buku dan toko bahan makanan. Penggunaan teknologi modern sudah tidak perlu dipertanyakan lagi. Kampus ini dilengkapi dengan serat optik mengkover melalui seluruh kampus, memfasilitasi komunikasi instan dari satu sudut yang jauh yang lain. Sayangnya tidak seperti LIPIA atau Universitas Islam di Saudi, kampus ini harus berbayar, mirip dengan kampus-kampus di Indonesia umumnya. Jadi teman-teman saya yang kuliah di kampus ini dan berkeluarga harus terbagi konsentrasinya, antara menyelesaikan studi dengan mencari rejeki. Banyak tokoh Islam di negeri kita yang saya kenal secara pribadi pernah kuliah di kampus ini. Misalnya Dr. Lutfi Fathullah MA, Dr. Adian Husaini, Dr. Syafi`i Antonio, termasuk juga Habib Rizieq Syihab, sang tokoh FPI itu. Menurut cerita teman-teman di kampus ini, ada sedikit perbedaan kualitas IIUM di masa lalu dengan di masa sekarang, terutama setelah `diambil alih` oleh pemerintah Malaysia. Namun secara umum, kampus ini masih menjadi favorite generasi muda dari berbagai negara sebagai tempat tujuan meneruskan study.

 

baca lainnya :


  • Saung Istiqamah KBRI Singapore : Fiqih Minoritas Sun, 20 Jun 2010 - 19877
  • Mau Dirikan Khilafah? Mulailah Dari Sekarang Tue, 8 Jun 2010 - 18543
  • Kuliah di LIPIA Sun, 6 Jun 2010 - 33351
  • Israel vs Umat Islam Sat, 5 Jun 2010 - 19659
  • Melawan Amerika Ala Jepang Sat, 13 Mar 2010 - 18666

     

     

     

  •  
    Jadwal Kajian
    « Nov 2014 »
    A S S R K J S
          1
    2345678
    9101112131415
    16171819202122
    23242526272829
    30

    Senin, 24 Nop 2014
    12:00-13:00

    Hotel Sultan
    Selasa, 25 Nop 2014
    07:30-09:00

    Lintas Artha
    12:00-13:00

    Masjid Astra
    18:30-19:30

    RPI
    20:00-21:00

    MT. Darul Arqam
    Rabu, 26 Nop 2014
    12:00-13:00

    IKPT
    20:00-21:30

    MTDU Malam Kamis
    Kamis, 27 Nop 2014
    12:00-13:00

    BPHN
    Jumat, 28 Nop 2014
    12:00-13:00

    Hotel Sultan
    Hotel Sultan
    14:00-15:00

    Pul Group


    viewed | total 2311169 views