muka | cv | photo | video | places | 1649 | download | kampussyariah

Konsultasi Ustadz Menjawab


judul
soal
jawaban
Di rubrik ini tersimpan 1.649 soal tanya jawab tentang syariah Islam dokumentasi tulisan Ahmad Sarwat, Lc. Terbagi menjadi 15 kategori sebagaimana tertulis di bawah ini.

Silahkan mengambil manfaat dari tulisan-tulisan ini, selain mengamalkannya juga mengajarkannya serta menyebarkannya. Mohon cantumkan sumber tulisan ini agar memudahkan siapa saja untuk merujuk kepada penulisnya...

  Aqidah [174]


  Al-Qur`an [66]

  Hadits [83]

  Ilmu Fiqih [44]

  Thaharah [79]

  Shalat [167]

  Zakat [46]

  Puasa [67]

  Haji [33]

  Muamalat [80]

  Pernikahan [172]

  Mawaris [80]

  Makanan [68]

  Daulah [84]

  Fiqih Kontemporer [142]

  Umum [254]

About me 15 Ceramah 8 Fikrah 20 Syariah 11

Alahumma Laka Shumtu : Hadits Dhaif?
Kamis, 9 September 2009 - 05:29:04 - 1063
Lafadz doa buka puasa yang memang sangat populer itu bila kita teliti secara riwayat, memang banyak yang mengatakan kelemahannya. Bunyinya adalah Allahumma laka shumtu wa `ala rizqika afthartu (Ya Allah, untuk-Mu aku berpuasa dan atas rezeki dari-Mu aku berbuka).

Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Daud, At-Thabarani dan Ad-Daaruquthuny dengan sanad yang lemah, bahkan satu dengan lainnya tidak bisa saling menguatkan, bahkan lafadznya pun berbeda-beda.

Menurut versi riwayat Abu Daud dan lainnya seperti Ibnul Mubarak dalam Al-Zuhd, atau seperti Al-Baihaqi, Ibnu Abi Syaibah lewat jalur Mu`az bin Zahrah adalah:

Apabila nabi SAW berbuka puasa, beliau mengucakan:

Allahumma laka shumtu, wa `ala rizkika afthartu.

Dalam hadits ini ada `illat, yaitu ketidak-jelasan identitas Muaz. Ibnu Hajar mengatakan hadits ini maqbul bila ada ikutannya, bila tidak maka hadits ini lemah sanadnya dan mursal. Hadits mursal menurut pendapat yang rajih dari mazhab As-Syafi`i dan Ahmad tidak bisa dijadikan hujjah. Ini berbeda dengan metodologi Imam Malik yang sebaliknya dalam masalah hadits mursal.

Hadits ini juga tidak punya shawahid yang mengangkatnya mencapai derajat hasan.

Imam At-Thabarani meriwayatkannya di dalam kitab Ash-Shaghir dan Awsath, lewat jalur Daud bin Az-Zabarqan dengan lafadz:


Apabila nabi SAW berbuka puasa, beliau mengucapkan:

Bismillahi allahumma laka shumtu, wa `ala rizkika afthartu

Imam Al-Hafidz mengomentari Daud sebagai orang yang matruk (riwayatnya ditinggalkan). Abu Daud juga memvonisnya sebagai matruk.

Ad-Daruquthuny, Ibnussunni dan At-Tahabari meriyawatkan juga lewat jalur Abdul Malik bin Harun. Namun Az-Zahab mengomentari Abdul Malik sebagai orang yang ditinggalkan riwayatnya. Lafadznya:

Allahumma laka shumna, wa `ala rizkika aftharna, Allahumma taqabbal minna innaka antas samiul-alim.

Syeikh `allamah Al-Albani di dalam Al-Irwa` jilid 4 halaman 36 telah menetapkan kedhaifannya

Berdoa dengan Hadits yang Tidak Shahih

Meski kita bisa menerima bahwa secara jalur sanad bahwa lafadz hadits doa ini lemah, namun yang jadi pertanyaan adalah:

Apakah tiap berdoa diharuskan hanya dengan menggunakan lafaz dari nash quran dan hadits saja?

Nyatanya, para ulama berbeda pendapat tentang hukum berdoa dengan menggunakan lafadz hadits yang derajat keshahihannya masih menjadi perdebatan.

Sebagian mengatakan tidak boleh berdoa kecuali hanya dengan lafadz doa dari hadits yang sudah dipastikan keshahihannya. Namun sebagian yang lain mengatakan tidak mengapa bila berdoa dengan lafadz dari riwayat yang kurang dari shahih.

Bahkan dalam lafadz doa secara umum, pada dasarnya malah dibolehkan berdoa dengan lafadz yang digubah sendiri. Apalagi ada zhan bahwa lafadz itu diucapkan oleh Rasulullah SAW.

Namun memang demikian adanya, di mana saja kapan saja, para ulama sangat mungkin terjebak dengan perbedaan sudut pandang.




terkait

sebelumnya





Kirim Undangan

Jadwal Kajian

« Juli 2010 »
A S S R K J S
    123
45678910
11121314151617
18192021222324
25262728293031
Sabtu, 31 Jul 2010
09:00-11:00
Kajian Terbatas : Fikih Ikhtilaf
Kajian Fikih Ikhtilaf : (diatur untuk beberapa kali Sabtu Dhuha)
20:00-21:00
Siaran Radio Belanda